Beralih dari translasi menuju ekspresi

Di negara-negara yang tidak berbahasa Inggris seperti di Indonesia, mempelajari bahasa inggris tentunya tidak semudah di negara yang menggunakan bahasa ini sebagai pengantar komunikasi sehari-hari. Bagi kita yang ada di Indonesia, mempelajari bahasa inggris sama dengan mempelajari sebuah mata pelajaran seperti matematika, fisika, dan kimia. Kita jarang ditanya "can you speak english?" - dari sejak sekolah dasar kita selalu ditanya "Inggris kamu nilainya berapa di rapor?". Ketika seseorang melamar pekerjaan, dan lampiran ijazah dibaca oleh pewawancara, biasanya akan muncul komentar "wah bahasa inggris kamu bagus ya?" karena nilai yang tercantum di ijazah adalah 9 ! Jadi akhirnya tujuan pencapaian belajar hanyalah sebuah angka indah, bukan skill. Ini salah satu hal yang membuat kita sulit menguasai bahasa ini.


Kita dilahirkan dan bertumbuh di sebuah wilayah yang sudah memiliki bahasa daerah dan bahasa nasional sendiri. Sejak bayi otak kita sudah merekam berbagai kata dan kalimat sesuai bahasa di wilayah kita berada. Akhirnya bahasa yang kita dengar ini menjadi bahasa otak kita untuk mengekpresikan pemahaman lingkungan dan penyampaian maksud dan kehendak kita. Struktur bahasa ini karena digunakan terus menerus akhirnya membentuk sebuah pola bahasa di otak, dan juga menjadi bagian ekspresi otak bawah sadar kita. Jika kita tinggal di Jawa, maka struktur bahasa yang utama di otak kita tentunya adalah bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Akhirnya ekspresi bahasa ini muncul dan digunakan secara otomatis, tanpa pengerahan berlebihan dari otak sadar kita. Demikian pula yang terjadi pada negara-negara yang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa sehari-hari. Jika kita amati pola ini, maka kita bisa melihat sebuah kunci untuk menguasai bahasa inggris dengan lebih baik, yaitu mentargetkan bahasa ini sebagai salah satu bahasa alamiah otak kita.

Bagaimana kita melatih otak kita untuk mampu membuat bahasa inggris sebagai bahasa alamiahnya ? secara sederhana ya mulai menggunakannya secara terus menerus. Memang itu jawabannya, tapi kesulitan muncul karena kita sudah mempunyai struktur bahasa sendiri, sehingga kita cenderung untuk menerjemahkan bahasa kita ke bahasa inggris pada waktu berbicara, dengan kecenderungan ini tentunya otak akan bekerja lebih berat, coba amati apa yang anda (sebagian besar orang, termasuk saya) lakukan ketika mencoba berbahasa inggris.

  1. Anda akan mulai memikirkan kata-katanya.
  2. Anda akan memikirkan sebuah kalimat secara lengkap. Misalnya : saya ingin pergi ke pasar.
  3. Kemudian Anda mulai menerjemahkan ke dalam bahasa inggris.
Nah, ada tiga tahapan, makanya kita suka terbatah-batah ketika harus berbicara dalam bahasa inggris. Cara di atas hanyalah sebuah ritual awal ketika Anda mulai belajar bahasa inggris atau bahasa apapun. Tetapi ritual tersebut tidak bisa mengantarkan anda pada sebuah komunikasi yang lancar. Anda harus beranjak dari ritual menuju ekspresi. Artinya Anda harus mulai melihat bahasa inggris sebagai sebuah ekspresi, bukan sebagai bahasa kedua. Maksud saya begini, ketika anda melihat sebuah benda berbentuk persegi atau bundar dengan kaki empat, Anda harus mampu mengekspresikan benda tersebut sebagai "TABLE", bukan lagi anda melhat sebuah meja, kemudian memikirkan kata meja dan menerjemahkannya menjadi table.

Jadi Anda bisa mulai melatih diri dengan cara sebagai berikut : 
  1. Jika anda melihat sebuah benda, sedapat mungkin lihatlah benda tersebut sebagaimana adanya benda tersebut, sedapat mungkin jangan pikirkan namanya dalam bahasa Indonesia. 
  2. Kemudian dekati benda tersebut dan katakan "what is this ?' 
  3. Dan kemudian ekspresikan benda tersebut dalam istilah bahasa inggris tanpa berusaha mengingat istilahnya dalam bahasa Indonesia. Atau anda bisa mengatakan "this is not priring, this is a plate !" jadinya memang agak lucu dan aneh :) tapi tidak apa-apa dalam rangka belajar.
Dengan mulai membiasakan melihat benda dan ekspresi bahasa langsung ke bahasa inggris tanpa transalasi, maka lambat laun sebuah jaringan baru akan terbentuk di otak Anda, dan dengan jaringan tersebut seharusnya kita semua akan lebih lancar berbicara dalam bahasa Inggris.

-->

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Beralih dari translasi menuju ekspresi"