Pelajaran penting dari seorang Prajurit Para Komando

http://belajarbahasainggrismandiri.blogspot.co.id/2016/04/pelajaran-penting-dari-seorang-prajurit.html

Tahun 1981 tepatnya pada tanggal 28 Maret, sebuah peristiwa yang mengejutkan sekaligus bersejarah terjadi yaitu pesawat DC-9 "Woyla" milik Garuda dibajak di udara pada pukul 10.10 sesaat setelah pesawat melalui Bandara Simpang Tiga, Pekan Baru dalam perjalanan dari Bandar Udara Internasional Kemayoran Jakarta menuju Bandara Polonia, Medan.



Pada waktu itu pembajak mengalihkan penerbangan menuju ke Penang, Malaysia dan setelah itu melanjutkan penerbangan menuju Bangkok, dan mendarat di Bandara Internasional Don Muang.

Pemerintah Indonesia pada saat itu selanjutnya membuat langkah-langkah persiapan untuk berusaha membebaskan sandera sekaligus mengakhiri drama pembajakan pesawat DC-9 "Woyla" tersebut.

Pasukan khusus Indonesia yang pada waktu itu masih bernama Kopassandha disiapkan untuk melaksanakan operasi militer ini dengan dipimpin oleh Letnan Kolonel Sintong Panjaitan (saat itu berusia 41 tahun). Letnan Kolonel Sintong Panjaitan bertanggung jawab untuk merencanakan operasi dan latihan pembebasan sandera pembajakan pesawat DC-9.

Sebuah pesawat DC-9 yang sejenis dengan pesawat DC-9 yang dibajak disiapkan untuk digunakan latihan oleh tim pembebasan pembajakan yang telah dibentuk. Pada hari itu juga tim berangkat menuju Hanggar Garuda Line Maintenance Domestic atau yang sehari-hari disebut dengan hanggar teknik Garuda. Latihan berlangsung secara intensif untuk memperkirakan semua kemungkinan yang bisa terjadi pada saat pembebasan sandera. Selama 2 hari latihan dilakukan sesuai standar keprofesionalan prajurit Kopassandha. Dan pada tanggal 30 Maret 1981 pukul 21.50 WIB bertolak menuju Thailand dengan pesawat DC-10 Garuda dan tiba pada pukul 02.25 waktu setempat.

Di tengah ketegangan dan konsentrasi serta 2 hari penuh dengan latihan yang menguras tenaga pasukan Indonesia masih melakukan beberapa latihan lagi untuk mematangkan persiapan operasi. Briefing terakhir dilakukan pada pukul 22.30 waktu setempat sebelum melakukan penyerbuan ke pesawat menjelang subuh sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

Letnan Kolonel Sintong Panjaitan pada waktu itu menyadari bahwa kondisi anak buahnya pasti sudah lelah dan kurang tidur akibat latihan yang terus menerus  dan juga karena beban tanggung jawab yang begitu besar terhadap keberhasilan pelaksanaan tugas besar tersebut. Di sini terjadi peristiwa menartik yang sepertinya sederhana tetapi menunjukkan kemampuan leadership dari seorang Sintong Panjaitan.

Saat itu Pak Sintong Panjaitan melakukan sebuah sandiwara untuk mengurangi rasa lelah dan beban mental anak buahnya. Ia keluar ruangan sambil berkata bahwa ia dipanggil. Sesaat kemudian ia masuk kembali sambil melemparkan senjatanya dan berkata,"Setengah mati kita latihan. Lupakan saja. Ternyata kita tidak jadi melakukan penyerbuan." Ia berkata kepada anak buahnya bahwa Thailand tidak mau kalau pasukan Indonesia yang melaksanakan pembebasan sandera. "Jadi besok kita segera pulang. Matikan lampu, terus tidur." lanjut Sintong Panjaitan.

Ketegangan pasukan pun langsung hilang, dan karena kelelahan dalam waktu kurang dari 30 menit seluruh pasukan tertidur. Letkol Sintong merasa senang, melihat anak buahnya bisa tertidur pulas dan meyakini bahwa mereka akan lebih fresh dan segar serta siap melaksanakan tugas ketika dibangunkan nanti. Benar juga, setelah satu jam berikutnya Letkol Sintong membangunkan pasukannya dan memberi aba-aba, "Lakukan persiapan. Kita jadi melaksanakan penyerbuan." Pasukan menanggapi hal tersebut dengan sigap, siap dan segar.

Hari itu menjadi hari yang membanggakan bagi bangsa Indonesia, dalam waktu 3 menit atau 20 detik lebih cepat dari waktu yang diperkirakan, peristiwa pembajakan pesawat DC-9 "Woyla" berhasil diakhiri tanpa satu pun korban di pihak sandera. 5 pembajak tewas tertembak, sementara korban dari pasukan khusus Indonesia 1 orang yaitu Capa Kirang yang tertembak pembajak pada saat menyerbu masuk ke pesawat dan gugur dua hari kemudian di Rumah Sakit Angkatan Udara King Bhumibol, Bangkok. Sementara dari pihak Garuda korban 1 orang orang yaitu captain pilot Herman Rante, juga akibat tembakan pembajak.

Sejak saat itu mata dunia mulai terbuka terhadap kehebatan pasukan khusus Indonesia yang bisa disetarakan dengan pasukan khusus dari negara-negara terkemuka di bidang militer di dunia.

Banyak kisah yang bisa diceritakan di sekitar peristiwa pembajakan pesawat DC-9 di tahun 1981, tetapi saya menyoroti sebuah peristiwa yang tampak sederhana tapi begitu penting dalam keseluruhan operasi, yaitu pemahaman sepenuhnya seorang pemimpin terhadap team yang sedang dipimpinnya. Letkol Sintong tidak hanya bertindak sebagai komandan dan pemimpin tetapi saat itu seakan-akan jiwa dan raganya telah menjadi satu dalam keseluruhan team sehingga keputusan-keputusan kecil yang dibuatnya sesuai dengan apa yang dibutuhkan team pada saat itu. Dan kebetulan apa yang diperlukan oleh team pada saat itu adalah kesegaran akibat rasa lelah dan tegang karena selama dua hari marathon mempersiapkan operasi penyerbuan. Jadi bukan cerita tetang perlunya tidur yang penting di sini, tetapi BBIM Friends bisa melihat bahwa dalam leadership, seorang pemimpin adalah bagian dari keseluruhan team, bukan bagian luar, atau hanya sekedar boss dari team tersebut.

Dan BBIM Friends juga bisa melihat dan mempelajari bahwa keprofesionalan ternyata adalah hasil dari latihan yang terus menerus dan sangat terperinci. Pasukan khusus Indonesia (saat itu Kopassandha) melakukan simulasi selama 2 hari penuh untuk bisa menyelesaikan sebuah operasi militer penting hanya dalam waktu 3 menit tanpa seorang korbanpun di pihak sandera. Prajurit militer Indonesia memang patut dibanggakan, semoga demikian seterusnya dan semakin meningkat kualitasnya dari waktu ke waktu.

Catatan ini saya buat setelah membaca buku "Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando" yang ditulis oleh Hendro Subroto wartawan senior Indonesia. Diterbitkan oleh Kompas, April 2009. Silakan baca bukunya jika BBIM Friends ingin mengetahui lebih banyak mengenai sejarah dan peristiwa di seputar dunia militer Indonesia.









Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pelajaran penting dari seorang Prajurit Para Komando"