Perlu dibaca

Sebaiknya Tidak ada PR (Pekerjaan Rumah) pada waktu liburan


Sebaiknya tidak ada PR (Pekerjaan Rumah) pada waktu liburan

Liburan merupakan momen yang menyenangkan bagi banyak murid sekolah dan keluarga. Momen ini merupakan saat-saat di mana anak bisa keluar dari rutinitas dan sepenuhnya menggunakan waktu mereka bersama keluarga, bermain bersama teman, bepergian atau di rumah saja dengan tingkat kualitas kebersamaan yang lebih tinggi bersama keluarga dibanding di saat jam-jam sekolah berlangsung.



Libur sekolah adalah saat di mana anak-anak terbebas dari belajar secara formal dan menggantikannya dengan pengalaman-pengalaman lain yang tidak bisa dinikmatinya ketika sedang tidak liburan.
Prinsipnya, ketika sedang liburan sebaiknya memang benar-benar digunakan untuk berlibur dan membebaskan anak-anak sepenuhnya dari belajar secara formal, agar mereka bisa fresh kembali ketika harus kembali bergulat dengan sekian banyak pelajaran dan tugas-tugas belajar yang harus dilakukannya di sekolah.

Saya termasuk seorang yang mengalami masa-masa di mana musim liburan adalah saat-saat yang menegangkan. Terutama ketika liburan sudah hampir berakhir. Faktor penyebabnya adalah begitu banyak PR (Pekerjaan rumah) yang diberikan guru bidang studi sebelum liburan dimulai.

Pernah suatu ketika menjelang liburan panjang, 5 guru bidang studi memberikan PRnya masing-masing. Guru bahasa Indonesia memberikan tugas menulis cerpen sebanyak 10 halaman folio. Kemudian guru IPA dan IPS memberikan tugas merangkum pelajaran dari buku teks sekitar 1-2 bab. Bidang studi bahasa Inggris menugaskan terjemahan, dan juga sekian ratus soal dari  pelajaran matematika. Saya masih bersyukur tidak ada tugas dari guru seni suara untuk membuat sebuah komposisi lagu :).

Hari pertama liburan bisa senang sekali pada waktu itu, tetapi bayang-bayang tugas menghantui sepanjang hari. Misalnya liburannya 30 hari biasanya saya tidak dengan memikirkannya di minggu pertama, tetapi tetap saja ada perasaan cemas. Beberapa teman yang rupanya berbakat manajemen sejak kecil mulai berbagi tugas untuk masing-masing PR, tetapi dengan resiko tugas yang dikumpulkan bakal terkena diskualifikasi karena isinya sama semua, terutama tugas mengarang cerpen.

Kenikmatan liburan berkurang sampai akhirnya memuncak di h-7 menjelang liburan selesai. . Muncul perasaan diburu waktu Ada juga yang baru mengerjakan PR satu hari sebelum sekolah dimulai dengan cara mengejar dan memburu murid-murid yang rajin dan memohon supaya tugasnya boleh dicopy paste.

Dan saat ini saya cukup bersyukur fenomena ini sudah jarang terjadi dan memang sebaiknya begitu. Jangan berikan PR yang bejibun kepada murid ketika sedang liburan. Biarkan momen liburan tetap menjadi liburan dalam arti yang sesungguhnya. Hal ini akan memberikan manfaat yang lebih besar kepada anak-anak daripada perasaan terbebani di saat ketika seharusnya mereka  bisa menikmati kebebasan dari rutinitas dan formalitas belajar sehari-hari.

Membuat sekolah menjadi sangat dirindukan melalui peningkatan kualitas suasana belajar yang menyenangkan selama di sekolah, mungkin adalah strategi yang lebih baik kalau tujuan memberikan PR adalah membuat murid tetap ingat sekolah selama masa liburan.

Seperti kantor yang baik adalah kantor yang membuat orang-orang yang bekerja di dalamnya selalu ingin kembali bekerja sesegera mungkin, demikian juga sekolah yang baik adalah sekolah yang membuat murid-muridnya selalu ingin segera kembali ke sekolah untuk “menikmati” pelajaran dan suasana yang ada di dalamnya.

Bagaimana pendapat Anda ?





Comments