Karyn Juara Dua SUCA 3 Indosiar

Karin Putri Lestari SUCA 3

Karyn Juara dua SUCA 3

SUCA (Stand Up Comedy Academy) yang diadakan oleh Indosiar telah menyelesaikan musim ke-3 nya dengan menghasilkan juara baru yaitu Bintang Emon (Jakarta) diikuti oleh Karyn (Medan) berhasil mendapatkan predikat runner up, dan tempat ke-3 berhasil diraih oleh Yewen (Papua). Ke-3 grand finalis ini masing-masing memiliki ciri khas dan keunikannya sendiri-sendiri, dan apa yang mereka miliki berhasil mengantar mereka ke jenjang tertinggi dari kompetisi ini. Selamat !



Stand Up Comedy (lawak tunggal) sejak beberapa tahun terakhir ini semakin berkembang dan semakin semarak. Dimotori oleh komedian handal seperti Raditya Dika, Panji Pragiwaksono, Ge Pamungkas, Babe Cabita dan juri-juri handal seperti Komeng, Jarwo Kwat, Soimah dll. Acara yang dirancang untuk membuat orang tertawa ini termasuk bidang yang serius dalam industri hiburan dan industri kreatif. Untuk menjadi lucu ternyata tidak mudah dan membutuhkan perjuangan, konsep, latihan, dan juga mentoring yang tepat.

Khusus untuk SUCA 3 ini cukup menarik karena di antara finalis terdapat seorang anak perempuan kecil yang baru berusia 10 tahun, dan apa yang dilakukannya bersama sang mentor Mosidik berhasil "memecahkan" suasana di SUCA 3 dengan delivery (ini istilah dalam Stand Up Comedy) yang sukses di setiap penampilan, meskipun terkadang agak tersendat tetapi secara keseluruhan menakjubkan untuk anak seusia Karyn. Tanpa mengesampingkan peserta lain seperti sang juara Bintang Emon yang tampil dalam kesederhanaan dan tanpa beban, dan Yewen yang konsisten dengan tema keresahan di daerahnya. Dalam artikel ini saya membahas Karyn yang menurut Raditya Dika bakal bisa menjadi role model untuk anak-anak seusianya yang berminat dalam bidang Stand Up Comedy.

Komika cilik yang lucu ini berusia 10 tahun, duduk di kelas 6 SD Pelangi, Medan, Sumatera Utara dengan nama lengkap Karin Putri Lestari. Materi yang dibawakan Karyn umumnya seputar kehidupan anak SD, kehidupan sehari-hari di rumah terutama bersama sang ibu (Nuke) yang berhasil dilihat Karyn dengan cara pandang anak kecil yang polos, jujur, tapi cerdas. Kelucuan dibangun dengan bahan dasar cara pandang Karyn terhadap situasi di sekitarnya dan juga keresahan-keresahannya dalam memandang kehidupan yang baru dialaminya selama 10 tahun.

Humor atau lawakan sepertinya bisa terjadi secara spontan, tetapi ketika hal tersebut diolah sebagai sebuah industri, hal ini tidaklah mudah. Sebuah lawakan yang "pecah" di sebuah panggung membutuhkan timing, kepekaan, penjiwaan dan juga kejujuran. Sebuah kata yang dianggap biasa-biasa saja di sebuah situasi bisa menjadi sangat lucu ketika dibawakan pada saat yang tepat.

Inti dari humor adalah pembalikan logika, menghadirkan sesuatu yang tak terduga di saat yang tepat. Ketika sesuatu berada di luar logika yang seharusnya maka otak akan mengenalinya sebagai sesuatu yang aneh, saat itu arus berpikir seperti terhenti, pikiran akan blank sejenak, dan kemudian situasi ini dikategorikan oleh otak di sebuah file yang berjudul "lucu, dan ketika otak telah mengenali hubungan antara yang logis dan tidak logis ini, dalam sepersekian detik kemudian tubuh menanggapinya dengan reaksi tertawa yang memicu sebuah neurotransmitter yaitu dopamin (ralat : endorphin) mengaliri otak. Entah bagaimana mekanisme ini bisa tercipta dalam diri manusia, tetapi saya percaya bahwa Sang Pencipta telah memberikan sistem ini dalam diri kita dengan sebuah maksud.

Seorang komika menurut saya adalah seorang dengan kemampuan berbahasa yang cukup kuat, seorang komika yang baik akan bisa mengendalikan dan menempatkan sebuah ekspresi sehari-hari dengan pengungkapan yang berada di luar logika atau dugaan, maka ketika hal tersebut diterima oleh orang lain akan membuat badai sejenak di otak dan menghasilkan kelucuan. Salah satu komika yang sangat kuat dalam pembalikan logika ini adalah cak Lontong dengan lontaran-lontaran kata-kata tak terduga yang membuat kita tertawa.

Dan untuk anak seusianya, Karyn sungguh sangat luar biasa. Kemampuan pemahaman materinya sudah terbentuk secara alami, mungkin ini sejalan dengan cerita Karyn yang mengatakan bahwa keluarganya adalah keluarga lawak, suka membuat hal-hal yang lucu. Tetapi tetap luar biasa, karena untuk bisa bersaing dengan 35 peserta yang usianya jauh di atasnya, kemudian dengan juri profesional yang tahu betul teori-teori stand up comedy, maka untuk berhasil dibutuhkan lebih dari sekedar anak yang lucu, melainkan anak yang sudah bisa memahami dan berpikir secara konseptual untuk sebuah pertunjukan, termasuk kepercayaan diri dan keberanian . Ini adalah bakat yang luar biasa dan layak diacungi jempol. Karyn telah membuat sejarah baru di SUCA3. Seperti yang dikatakan oleh sang mentor Mosidik : "Ini adalah speech saya setahun yang lalu ketika Arafah masuk grand final, Arafah baru berusia 17 tahun ngalahin puluhan perserta untuk sampai grand final, saya ngga nyangka akan berada di  final dengan wanita yang jauh lebih mudah daripada Arafah, umurnya baru 10 tahun, prestasinya sudah melebihi kita semua."

Selamat buat Karyn, semoga bisa mencapai cita-cita dan sukses. Tetap cerdas dan menjadi inspirator kehidupan. Dunia membutuhkan cara pandang yang berbeda di tengah-tengah kesibukan rutin yang terjadual dan "robotis." Apa yang dilakukan oleh komika di panggung stand up comedy akan membuat pikiran terbang sejenak dari rutinitas dan menghasilkan kecerahan berpikir dan energi baru yang kreatif dan akan membuat dunia menjadi lebih baik. Selamat untuk program SUCA Indosiar yang berhasil mengangkat stand up comedy sebagai industri kreatif yang menjanjikan.

Berikut ini adalah beberapa video penampilan Karyn yang berhasil membuat penonton "pecah" terbahak-bahak.

Grand Final :


Kita tunggu penampilan Karyn selanjutnya.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Karyn Juara Dua SUCA 3 Indosiar"